You Are Here: Home - Adab dan Perilaku Muslim - Tazkiyatun Nafs: Tawadhu'

Tawadhu’ (rendah hati) mungkin kata yang sering kita dengar, namun ternyata sulit untuk diamalkan. Apatah lagi sudah merupakan fitrah manusia senang akan pujian. Maka, melakukan perbuatan yang berlawanan dengan fitrah manusia bukanlah perkara yang mudah dilakukan.

Sesungguhnya tawadhu’ mempunyai faidah yang mulia, yakni tidaklah seorang bertawadhu’, maka Allah Ta'ala akan mengangkat derajatnya. Hal ini sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya” (HR. Muslim no. 2588).

Harap diperhatikan kalimat hadits “bersikap tawadhu’ karena Allah” artinya tawadhu’ yang dilakukannya adalah ikhlas karena Allah semata, bukan pura-pura tawadhu’ agar dikagumi manusia.

Ibnul Mubarak pernah mengingatkan :
"Jadilah engkau orang yang tawadhu' dan tidak menyukai popularitas. Namun janganlah engkau pura-pura tawadhu' sehingga engkau menjadi riya'. Sesungguhnya mengklaim diri sebagai orang yang tawadhu' justru mengeluarkanmu dari ketawadhu'an, karena dengan caramu tersebut engkau telah menarik pujian dan sanjungan manusia". (Shifatush Shafwah : IV /137)

Alangkah indahnya syair As-Safarini dalam Gidzaaul Al Baab (II/233), ia berkata :

وأحسن أخلاق الفتى وأتمها
تواضعه للناس وهو رفيع

Sebaik-baik dan paling sempurnanya akhlak seorang pemuda
adalah kerendahan hatinya kepada manusia padahal kedudukannya mulia”.

Sumber: Akhi Igun AFN (Jazakallahu khairan untuk semua tulisan Akhi)

0 comments

Leave a Reply