You Are Here: Home - Fikrah - Nasihat Kepada Bloggers: Larangan Berdusta Atas Nama Nabi

Kadang2 agak sedih bila melawat blog2. Ada blogger yang leka bila meyampaikan hadith nabi SAW. Antara penyebar hadith palsu ialah blogger(bukan semua). Maaf saya katakan macam tu. Apapun, semoga nasihat ni bermanfaat. Manusia memang akan terdedah kepada salah dan silap. So, sebaik-baik yang buat salah ialah yang bertaubat.

Larangan Berdusta Atas Nama Nabi


Dari Samurah bin Jundub dan al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang hal itu tampak dusta, maka dia tergolong salah satu di antara dua pendusta.” (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat al-Jam’u Baina ash-Shahihain, hal. 8 )

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian berdusta atas namaku. Sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka dia akan masuk neraka.” Dalam riwayat Bukhari, “Hendaknya dia masuk ke neraka.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-’Ilm, dan Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat al-Jam’u Baina ash-Shahihain, hal. 8 )

Dari Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, lihat al-Jam’u Baina ash-Shahihain, hal. 8 )

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat al-Jam’u Baina ash-Shahihain, hal. 9)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat al-Jam’u Baina ash-Shahihain, hal. 9)

Dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama orang lain. Maka barangsiapa yang berdusta secara sengaja atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat al-Jam’u Baina ash-Shahihain, hal. 9)

Dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berkata-kata atas namaku padahal aku sendiri tidak mengucapkannya maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, lihat al-Jam’u Baina ash-Shahihain, hal. 9)

Hadits-hadits di atas mengandung pelajaran:

1. Tidak boleh berdusta atas nama Nabi
2. Berdusta atas nama Nabi lebih besar dosanya daripada berdusta atas nama selainnya
3. Berdusta atas nama Nabi termasuk dosa besar
4. Wajib berhati-hati dalam menyampaikan hadits yang disandarkan kepada Nabi, oleh sebab itu harus diteliti kebenarannya
5. Yang dimaksud berdusta atas nama Nabi adalah mengatakan bahwa Nabi mengatakan sesutau padahal beliau tidak mengatakannya
6. Istilah hadits untuk menyebut sabda Nabi adalah istilah yang syar’i dan sudah ada sejak jaman Nabi, bahkan beliau sendiri yang pertama kali menyebutkannya
7. Wajibnya mempelajari ilmu hadits, untuk membedakan hadits yang sahih dan yang bukan

Sumber: http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/#more-1573 March 12, 2010

Cadangan posting:
1. Menjaga Ketulenan Agama: Ancaman Berdusta Terhadap Hadith
2. Menjaga Ketulenan Agama: Kewajipan Menyemak Sanad dan Matan

Semoga bermanfaat, wallahu'alam
Tags: Fikrah

0 comments

Leave a Reply