You Are Here: Home - Diari Seorang Penuntut Ilmu - Diari Seorang Penuntut Ilmu: Tiada Buku Yang Sempurna

Nukilan seorang Hamba Allah... (Semoga Allah SWT merahmati beliau )

Muqaddimah

“Diari” ini hanyalah cetusan perasaan ana pribadi. Ana tidak mengklaim bahwa apa yang ana tulis 100% bebas dari kesalahan. Oleh karena itu ana meminta maaf sebelumnya jikalau ada kesalahan. Lagipula ini cuma “diari” saje, bukan sebuah karya ilmiah yang dituntut harus mengeluarkan pelbagai sudut pandang secara ilmiah.

SIRI 1: TIADA BUKU YANG SEMPURNA

Kebiasaan ana kalau membeli buku, maka diantara yang menjadi perhatian ana adalah edisi ke berapa buku itu dicetak. Bukan ape, karena berdasarkan pengalaman, cetakan edisi pertama biasanya ditemui ada kesalahan, baik kesalahan teknical maupun kesalahan dalam penulisan yang biasanya direvisi oleh penerbit atau penulis buku tersebut pada cetakan berikutnya. So, ana kalau beli buku cari cetakan yang terakhir. Tapi, kalau cetakan terakhirnya adalah cetakan pertama (karena baru jak terbit), maka apa boleh buat, gune saje apa yang ade..

Fenomena merevisi buku atau tulisan ini mungkin juga dialami oleh mereka yang dah sering menulis. Setelah menulis, kemudian selang beberapa waktu setelah bertambahnya ilmu dan pengalaman, ketika ia kembali menyemak kembali tulisannya maka akan ia dapatkan bahwa ada diantara tulisannya yang harus diperbaiki. Dan itu adalah suatu wajar, dan bukanlah suatu aib. Karena ilmu bukanlah suatu yang statis dan jumud, yang berhenti pada suatu titik tertentu, dan hanya melihat sesuatu dari satu sudut pandang sahaja.

Dan kerana sedar akan kemungkinan kesalahan yang mungkin dibuat dalam menulis, para ulamak kita mencontohkan rasa tawadhu’ mereka sebelum menulis suatu buku, seperti kita dapatkan pada mukaddimah Taudhihul Ahkam Syarh Bulughul Maram karangan Syaikh Abdurrahman Al Bassam, mukaddimah Mausu’atul Adab Al-Islamiyah karangan Syaikh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, dan mukaddimah Al Wajiz fi Idhahi Qawa’idil Fiqhi al Kulliyah karangan Dr. Muhammad Shiddieqy bin Ahmad bin Muhammad Al Burnu, tercantum perkataan indah dari Abdurrahim bin Ali al-Qadhi (w 596 H) dalam suratnya yang ia tujukan kepada Al ‘Imad al-Ashbahani, beliau berkata :

Kulihat setiap orang yang menulis sebuah buku, esoknya selalu mengatakan : ‘Andaikan bagian ini diubah tentu lebih baik; andaikan bagian ini ditambahkan tentu lebih bagus; andaikan bagian ini didahulukan tentu lebih pas; dan andaikan bagian ini dibuang tentu lebih indah’. Ini merupakan pelajaran dan bukti kekurangan yang selalu ada pada diri manusia”.

Semoga bermanfaat, Wallahu'alam

0 comments

Leave a Reply