You Are Here: Home - Fikrah - Tujuh Dosa Besar - Kedua: Sihir


Kuliah ringkas, 8 min 02 saat oleh Dr Mohd Asri(Loading agak lambat, harap maaf)

Hukum Sihir dan Perdukunan

Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Segala puji hanya kepunyaan Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan umat, Nabi besar Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang tiada lagi Nabi sesudahnya.

Akhir-akhir ini ramai sekali tukang-tukang ramal yang mengaku dirinya sebagai tabib yang mengubati orang sakit dengan jalan sihir atau perdukunan. Mereka kini banyak tersebar di berbagai negeri; orang-orang awam yang jahil sudah banyak menjadi mangsa pemerasan mereka.

Maka atas dasar nasihat kepada Allah s.w.t. dan kepada hamba-hambaNya, saya ingin menjelaskan tentang betapa besar bahayanya terhadap Islam dan umat Islam tentang bergantungnya kepada selain Allah dan bahawa hal tersebut bertentangan dengan perintah Allah dan RasulNya.

Dengan memohon pertolongan Allah Ta'ala saya katakan bahawa mendapatkan rawatan untuk mengubati penyakit dibolehkan menurut kesepakatan para ulama. Seorang muslim jika sakit hendaklah berusaha mendapatkan rawatan dari doktor yang pakar, baik penyakit dalam, pembedahan, saraf, maupun penyakit luar untuk diselidiki apa penyakit yang dideritanya. Kemudian dirawat sesuai dengan ubat-ubatan yang dibolehkan oleh syara', sebagaimana amalan ilmu kedoktoran. Dilihat dari segi sebab dan akibat yang biasa berlaku, hal ini tidak bertentangan dengan konsep tawakkal kepada Allah , oleh kerana Allah Ta'ala telah menurunkan penyakit dan juga ubatnya. Ada di antaranya yang sudah diketahui oleh manusia dan ada yang belum diketahui. Akan tetapi Allah Ta'ala tidak menjadikan penyembuhannya dari sesuatu yang telah diharamkan kepada mereka.

Oleh karena itu tidak dibenarkan bagi orang yang sakit, mendatangi dukun-dukun yang mendakwakan dirinya mengetahui hal-hal ghaib, untuk mengetahui penyakit yang dideritanya. Tidak diperbolehkan pula mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan, kerana sesuatu yang mereka katakan mengenai hal-hal yang ghaib itu hanya didasarkan sangkaan-sangkaan belaka, atau dengan cara meminta pertolongan jin-jin . Dengan cara demikian dukun-dukun tersebut telah melakukan perbuatan-perbuatan kufur dan sesat.

Rasulullah s.a.w. menjelaskan dalam berbagai hadisnya sebagaimana berikut :

"Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab 'Shahih Muslim', bahwasanya Rasulullah s.a.w bersabda : 'Barangsiapa mendatangi 'arraaf' (tukang ramal) kepadanya, tidak akan diterima salatnya selama empat puluh hari."

"Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w , beliau bersabda:'Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun)) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w." (HR. Abu Daud).

"Dikeluarkan oleh empat Ahlus Sunan dan disahihkan oleh Al-Hakim dari Nabi s.a.w dengan lafaz: 'Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w ."

"Dari Imran bin Hushain r.a.,dia berkata: 'Rasulullah s.aw bersabda: 'Bukan termasuk golongan kami yang melakukan atau meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda,burung dan lain-lain), yang meramal atau yang meminta diramalkan, yang menyihir atau meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w. "(HR. Al-Bazzaar,dengan sanad jayyid).

Hadis-hadis yang mulia di atas menunjukkan larangan mendatangi peramal, dukun dan seumpamanya, larangan bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang ghaib, larangan mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan, dan ancaman bagi mereka yang melakukannya.

Oleh kerana itu, kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai pengaruh di negeri masing-masing, wajib mencegah segala bentuk aktiviti tukang ramal, dukun dan seumpamanya, dan melarang orang-orang mendatangi mereka.

Kepada yang berkuasa hendaklah melarang mereka menjalankan aktiviti-aktiviti di pasar-pasar, tempat-tempat awam atau di mana sahaja dan secara tegas membantah segala yang mereka lakukan. Dan hendaknya kita tidak tertipu oleh pengakuan segelintir masyarakat yang tentang benarnya dakwaan mereka kerana sebenarnya orang-orang tersebut tidak mengetahui perkara yang dilakukan oleh dukun-dukun tersebut, bahkan kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti hukum, dan larangan terhadap perbuatan yang mereka lakukan.

Rasulullah s.a.w telah melarang umatnya mendatangi para peramal, dukun dan tukang tenung. Melarang bertanya serta membenarkan apa yang mereka katakana kerana perkara tersebut mengandungi kemungkaran dan bahaya besar, dan mempunyai kesan buruk yang sangat besar. Mereka adalah orang-orang yang melakukan dusta dan dosa.

Hadis-hadis Rasulullah s.a.w. tersebut di atas membuktikan tentang kekufuran para dukun dan peramal. Mereka mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib padahal mereka tidak akan sampai pada maksud yang diinginkan melainkan dengan cara berbakti, tunduk, taat, dan menyembah jin-jin. Ini merupakan perbuatan kufur dan syirik kepada Allah s.w.t.. Orang yang membenarkan mereka atas pengakuannya mengetahui hal-hal yang ghaib dan mereka meyakininya, maka hukumnya sama seperti mereka. Dan setiap orang yang menerima perkara ini dari orang yang melakukannya, sesungguhnya Rasulullah s.a.w. berlepas diri dari mereka.

Seorang muslim tidak boleh tunduk dan percaya terhadap dugaan dan sangkaan bahwa cara seperti yang dilakukan itu sebagai suatu cara rawatan , contohnya tulisan-tulisan azimat yang mereka buat, atau menuangkan cairan timah, dan lain-lain cerita bohong yang mereka lakukan.

Semua ini adalah amalan perdukunan dan penipuan terhadap manusia; maka barangsiapa yang reda terhadap amalan tersebut dan tidak menolaknya, sesungguhnya ia telah menolong dalam perbuatan bathil dan kufur.

Adalah tidak dibenarkan sama sekali seorang muslim pergi kepada para dukun, tukang tenung, tukang sihir dan seumapamanya untuk bertanya kepada mereka hal-hal yang berhubungan dengan jodoh, pernikahan anak atau saudaranya, atau yang menyangkut hubungan suami isteri dan keluarga, tentang cinta, kesetiaan, perselisihan atau perpecahan yang terjadi dan sebagainya. Semua itu adalah berkaitan dengan hal-hal ghaib yang tidak diketahui hakikatnya oleh siapa pun kecuali oleh Allah s.w.t.

Sihir sebagai salah satu perbuatan kufur yang diharamkan oleh Allah, dijelaskan di dalam surat Al-Baqarah ayat 102 tentang kisah dua Malaikat:

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan:"Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir'. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarkan ayat (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di Akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui."(Al-Baqarah:102)

Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahawa sesiapa yang mempelajari ilmu sihir, sesungguhnya mereka mempelajari hal-hal yang hanya mendatangkan mudarat kepada diri mereka sendiri, dan tidak pula mendatangkan sesuatu kebaikan di sisi Allah s.w.t. Ini merupakan ancaman berat yang menunjukkan betapa besar kerugian yang bakal menimpa mereka di dunia ini dan di Akhirat nanti. Mereka sesungguhnya telah memjualkan diri mereka dengan harga yang amat murah, itulah sebabnya Allah berfirman: :

"Dan alangkah buruknya perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir itu, seandainya mereka mengetahui."

Kita memohon kepada Allah kesejahteraan dan keselamatan dari kejahatan sihir dan semua jenis amalan perdukunan serta tukang sihir dan tukang ramal. Kita memohon pula kepadaNya agar kaum muslimin terpelihara dari kejahatan mereka. Semoga Allah s.w.t memberikan pertolongan kepada kaum muslimin agar senantiasa berhati-hati terhadap mereka, dan melaksanakan hukum Allah terhadap mereka, sehingga manusia menjadi aman dari kejahatan dan segala amalan keji yang mereka lakukan.

Sungguh Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia!.

Semoga bermanfaat. Wallahu'alam

Sumber: http://www.darulkautsar.net/article.php?ArticleID=43 retrieved December 03, 2009
Tags: Fikrah

0 comments

Leave a Reply