You Are Here: Home - Adab dan Perilaku Muslim - Adab Dan Perilaku Muslim: Hukum Menipu Di Dalam Peperiksaan

http://4.bp.blogspot.com/_8P5ykdYWvJM/S7Lavvvp6uI/AAAAAAAAAL0/riJTzhNZkeU/s1600/cheating.jpg
(Gambar hiasan)

Mukaddimah

Islam sebagai satu cara hidup memberikan panduan di dalam setiap perkara yang dilalui oleh muslim di dunia ni. Cumanya tinggal, kita nak ikut atau tak... Yakinlah setiap peraturan yang ditetapkan adalah untuk kebaikan umatnya. Setiap peraturan yang memberikan kemudharatan akan di berikan keringanan daripada Allah. Sebagai contoh mudah, dalam solat kena berdiri, tapi kalau menjadi mudharat kepada umat, Allah SWT membenarkan solat duduk dan seterusnya(InsyaAllah semua tahu). Contoh lain, kalau tak de air atau sakit tak boleh ambil wudhu', Islam benarkan tayyamum, di mana tayyamum ni mudah je.. tak susah.. Agama itu mudah,

Firman Allah: (maksudnya) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. (Surah al-Baqarah: 185)

Firman Allah: (maksudnya) Allah (sentiasa) hendak meringankan (beban hukumnya) daripada kamu, kerana manusia itu dijadikan berkeadaan lemah. (Surah al-Nisa: 28).

Dalam hadith Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w bersabda: “Agama itu mudah. Tiada seorang yang memberat-beratkannya melainkan dia menjadi susah. Maka bersederhanalah, dekatilah yang tepat dan gembirakanlah mereka” (Riwayat al-Bukhari).

Tapikan...mudah-mudah jugak...kalau MALAS tu lain cerita ekkk..Jangan memandai nak tafsir bukan-bukan....


Curang Dalam Ujian

(edited, jawapan kepada pertanyaan sahaja.. artikel penuh... http://www.almanhaj .or.id/content/ 125/slash/ 0 retrieved 12 october 2009)

Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Curang dalam ujian, ibadah atau mu’amalah hukumnya haram, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Iman no 101]

Disamping itu, hal tersebut dapat menimbulkan banyak madharat baik di dunia maupun di akhirat. Maka seharusnya menghindari perbuatan tersebut dan saling mengingatkan untuk meninggalkannya.
Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Telah disebutkan dalam sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Iman no 101]

Ini mencakup semua bentuk kecurangan dalam mu’amalah dan ujian, mencakup pula materi bahasa inggris dan lainnya. Maka para mahasiswa dan mahasiswi tidak boleh berbuat curang dalam semua materi karena keumuman hadits tersebut. Hanya Allah lah sumber petunjuk.

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Tidak boleh melakukan kecurangan dalam ujian, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Artinya : Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Iman no 101]

Lagi pula, hal itu mengandung madharat bagi umat, sebab jika para pelajar telah terbiasa berbuat curang, maka standard keilmuan mereka lemah, shingga secara umum umat ini tidak mapan peradabannya dan membutuhkan orang lain, dan tentunya dengan begitu kehidupan umat ini menjadi kehidupan yang sulit. Maka tidak ada perbedaan antara materi bahasa inggris dan materi lainnya, karena masing-masing materi itu memang dituntut dari para pelajar.

Adapun pernyataan penanya bahwa materi tersebut tidak bermanfaat, sama sekali tidak benar, karena terkadang materi itu memiliki manfaat yang besar. Bagaimana menurut anda, jika anda hendak mengajak suatu kaum untuk memeluk Islam sementara mereka hanya bisa berbahasa inggris? Bukankah dalam hal ini bahasa inggris sangat bermanfaat? Betapa banyak kondisi di mana kita berharap menguasai suatu bahasa yang bisa saling dimengerti bersama lawan bicara kita.

Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Tidak boleh berbuat curang dalam ujian dan tidak boleh membantu orang yang curang dalam hal ini, baik dengan bisikan atau menujukkan jawaban kepada yang di sebelahnya untuk di contek atau dengan upaya-upaya lainnya, karena hal ini bisa menimbulkan madharat terhadap masyarakat, di mana berbuat yang curang itu telah mendapat predikat yang tidak berhak diraihnya, sehinga ia bisa memegang tugas yang tidak dikuasainya. Yang demikian itu akan menimbulkan madharat dan tipuan. Wallahu ‘alam

Semoga bermafaat. Wallahu'alam

0 comments

Leave a Reply